Latar sudah hafal cerita yang akan ia bawakan. Jadi,

Latar BelakangOrang tua terkadang lupa atau kurang peduli bahwa mendongeng sebelum tidur bukan sekadar menceritakan sebuah cerita agar anak terlelap. Selain sebagai bentuk menunjukan kasih sayang terhadap anak storytelling juga merupakan aktivitas sangat baik namun sederhana yang bisa dijadikan media yang paling ampuh untuk mengajarkan sedikit tentang kehidupan dan membangun karakter, sifat, dan perilaku yang baik pada diri mereka.Selain itu kegiatan mendongeng dapat membantu perkembangan anak. Diantaranya  menumbuhkan minat baca sejak usia dini pada anak, mendongeng juga dapat membuat anak lebih kreatif karena imajinasinya terasah akibat selalu mendengarkan cerita. Hal ini akan menjurus pada peningkatan kepercayaan diri dari seorang anak. Salah satu alasannya karena mereka memiliki banyak pengetahuan yang dimiliki dari apa yang mereka baca. Penelitian ini tidak terlepas dari pengamatan penulis terhadap anak-anak yang mengikuti “Festival Mendongeng Keluarga Beercerita dan Keluarga Berkaraya” yang diadakan KPBA (Komunitas Pecinta Bacaan Anak) dalam acara Tempo Weeks di Perpustakaan Nasional pada tanggal 26 November 2017. Dari pengamatan penulis, banyak anak-anak yang lebih aktif karena mereka biasa didongengkan oleh orangtuanya. Dari sinilah hal menarik yang membuat penulis ingin meneliti lebih lanjut.MetodeMetode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan metode deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan suatu kejadian, fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung sesuai dengan kondisi yang dan keadaan yang sebenarnya. Pendekatan  kualitatif, yakni penelitian yang menghasilkam data berupa data non angka seperti kalimat-kalimat, foto, rekaman suara dan gambar dari objek yang diteliti. Dengan demikian data-data tersebut yang akan menjadi sumber data bagi penelitian yang dilakukan.Diskusi Pembahasan Pengertian StorytellingStorytelling atau mendongeng terdiri dari dua jenis yaitu yang memakai buku dan tidak memakai buku. Kegiatan bercerita yang menggunakan buku atau teks saat bercerita dikenal dengan reading aloud. Sementara itu kegiatan bercerita yang tanpa menggunakan buku saat bercerita disebut storytelling. Hal yang dimaksudkan disini bukan tidak menggunakan buku sama sekali. Akan tetapi pendongeng sudah hafal cerita yang akan ia bawakan. Jadi, tidak memegang buku atau teks saat bercerita. Berbeda dengan reading aloud dimana pendongeng harus tahu tata cara membacakan buku. Misalnya cara memegang buku sejajar dengan mata anak, jangan terlalu terpaku pada buku, pengaturan jarak antara pendongeng dengan anak dan posisi duduk pendongeng. Biasanya reading-aloud baik dilakukan di ruang kelas dan ketika anak menjelang tidur.  Mendongeng tanpa buku dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga seperti boneka, kertas origami, tali, mainan atau memerankannya seperti drama. Pendongeng tentu harus menghafalkan cerita dan berlatih lebih keras agar dapat menampilkan cerita yang dibawakan dengan baik. Selain itu juga penting memperhatikan intonasi dan penjiwaan terhadap cerita.Storytelling Mengajarkan Anak Dari Cerita atau KisahCerita atau kisah yang di dongengkan oleh orangtua kepada anak-anaknya dirumah ataupun oleh guru di sekolah memiliki peran penting untuk membangun pola pikir anak. Dari sebuah kisah anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka merasa tidak dipaksa untuk belajar ketika mendengarkan cerita karena cerita sifatnya menghibur dan menyenangkan. Cerita yang banyak mengandung pelajaran adalah kisah tentang tokoh terutama cerita atau kisah-tentang nabi.  Dalam buku “Prophetic Parenting Cara Nabi mendidik Anak ” disebutkan bahwa hikayat atau kisah berperan penting dalam menarik perhatian anak dan membangun pola pikirnya. Kisah menempati peringkat pertama sebagai landasan asasi metode pemikiran yang memberikan dampak positif pada akal anak.Dalam Qur’an juga disebutkan bahwa kisah atau cerita dapat memberikan pelajaran yang berharga. Tidak hanya bagi anak-anak namun juga bagi orang dewasa. Berikut ayat tersebut: ?????? ????? ??? ?????????? ???????? ?????????? ???????????? ?Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.Dari pengertian ayat diatas dapat disimpulkan bahwa islam sangat menganjurkan untuk mengajari anak lewat cerita. Dimana dalam kehidupan sekarang bisa diterapkan dengan mendongeng atau storytelling. Cerita tidak hanya sekedar penghibur saja namun memiliki makna tersirat yang dapat kita sampaikan kepada anak-anak sebagai pengajaran dalam hidup.. Seperti tentang nilai kehidupan diataranya kejujuran, keberanian, kebaikan, sikap pantang menyerah, toleransi dan nilai-nilai lainnya.Storytelling Meningkatkan Keaktifan dan Percaya Diri Pada AnakKegiatan mendongeng yang dilakukan oleh orangtua pada anak dengan tujuan meningkatkan percaya diri pada anak tidaklah harus kegiatan mendongeng yang profesional. Beberapa pendapat orangtua yang mengikuti “Festival Mendongeng Keluarga Beercerita dan Keluarga Berkaraya” yang diadakan KPBA (Komunitas Pecinta Bacaan Anak) dalam acara Tempo Weeks di Perpustakaan Nasional pada tanggal 26 November 2017 lalu. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak selalu mendongeng secara professional dirumah kepada anak-anak. Hal ini juga karena ibu ataupun ayah dari anak-anak tersebut tidak terlalu bisa mendongeng seperti para pendongeng atau storyteller profesional. Kebanyakan mereka hanya melakukan reading-aloud menjelang anak tidur dimalam hari. Hal ini juga karena para orangtua sibuk bekerja. Tapi mereka meluangkan sedikit waktu bagi anak-anak mereka sebagai bagian dari quality-time dengan anak. Namun pada beberapa kesempatan mereka mengajak anak-anaknya untuk mengunjungi pertunjukan storytelling yang profesional.Kegiatan mendongeng secara sederhana dirumah akan sangat membantu dalam peningkatan kepercayaan diri anak. Hal ini karena anak selalu mendengarkan cerita yang membuat imajinasi mereka terasah dengan baik sehingga anak menjadi lebih kreatif. Selain itu pada acara tersebut beberapa dari orang tua mengatakan bahwa sebelum anak bisa membaca orangtua lebih aktif membacakan cerita atau mendongeng secara sederhana. Setelah usia anak memasuki usia dimana mereka bisa membaca orang tua justru meminta anaknya yang membacakan cerita. Hal ini untuk melatih anak agar lancar membaca. Selain itu ada juga yang meminta anaknya untuk menceritakan ulang cerita yang telah didongengkan sebelumnya. Hal ini tentu dapat melatih anak-anak agar percaya diri untuk berbicara didepan orang. Walaupun mereka awalnya hanya bercerita didepan ayah atau ibunya. Tahap ini biasanya dilakukan untuk anak usia setelah melewati masa balita.Lalu, ada juga orangtua yang menantang anak-anaknya untuk menampilkan cerita-cerita yang dulu pernah didongengkan oleh orangtua mereka. Hal ini untuk melatih anak-anak nya untuk berlatih berekspresi ataupun berakting memerankan tokoh dari cerita yang pernah mereka dengar. Sehingga anak-anak ketika diluar rumah tidak canggung dan malu ketika mereka ingin tampil mendongeng disekolah atau lingkungan sekitar. Selain itu anak-anak lebih aktif dan mudah bergaul dengan lingkungan mereka. Pada tahap menampilkan cerita, biasanya ditujukan kepada anak yang usianya mulai mendekati usia remaja.Jadi, kenapa storytelling dapat membantu meningkatkan self–esteem pada anak? Hal ini tidak terlepas dari manfaat storytelling itu sendiri yaitu:Dengan Storytelling membuat kemampuan berbahasa anak bertambah. Hal ini karena anak sering mendengarkan kosakata baru dari cerita-cerita yang mereka dengar.Dengan Storytelling membuat kemampuan komunikasi anak-anak lebih lancar. Hal ini berhubungan dengan kemampuan bahasa yang meningkat karena penambahan kosakata yang didapat dari cerita. Dengan kemampuan bahasa yang meningkat juga membuat kemampuan komunikasi menjadi lebih baik.Dengan  Storytelling pengetahuan anak bertambah. Hal sudah pasti karena cerita banyak memuat pengetahuan dan informasi bagi anak. Seperti kisah-kisah tokoh terkenal, kisah nabi, cerita daerah dan kisah-kisah lain dengan genre tertentu.Dengan Storytelling imajinasi anak berkembang. Anak-anak akan semakin berkembang imajinasinya karena banyak mendengarkan cerita-cerita yang membuat mereka terus berfantasi melalui cerita yang mereka dengar. Mereka akan bersemangat ketika memerankan tokoh cerita yang mereka kagumi.Kesimpulan dan Saran Tanpa disadari banyak keuntungan jika orangtua menerapkan storytelling dalam kehidupan sehari-hari untuk mendidik anak. Namun banyak juga orangtua yang menganggap hal ini tidak penting. Padahal dengan seringnya anak dan orangtua mendongeng ataupun membaca cerita akan lebih mengakrabkan hubungan anak dengan orangtua. Melihat banyak pengaruh sebuah cerita terhadap perkembangan pola pikir anak ada baiknya kita mulai menerapkannya. Bahkan islam menganjurkan mendidik anak melalui sebuah kisah atau cerita.  Kegiatan mendongeng ini tidak menuntut orangtua untuk mendongeng seperti para pendongeng profesional. Kegiatan membaca buku menjelang tidurpun sangat membantu dalam pembentukan pola pikir anak. Seperti yang dilakukan oleh para orangtua yang mengikuti acara “Festival Mendongeng Keluarga Bercerita dan Keluarga Berkaraya” yang diadakan KPBA (Komunitas Pecinta Bacaan Anak) dalam acara Tempo Weeks di Perpustakaan Nasional.  Jadi tidak ada salahnya orangtua mulai menerapkan kegiatan ini walau hanya sekedar bercerita menjelang anak tidur.

x

Hi!
I'm Marcella!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out