Saat rendah. Merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain,

Saat hidup dalam serba kekurangan,
hubungan baik terus terjaga. Tidak hanya dengan tetangga, namun jugga dengan
teman-teman yang jauh. Tapi sewaktu keberutungan mulai menyapa, harta mulai
dimiliki jabatan mulai disandang, bukannya mensyukuri keberhasilannya malah
seringkali berbuat sebaliknya, lupa diri.

Hubungan balik mulai dilupakan,
jangankan teman-teman yang jauh, tentangga dekat saja yang setiap hari bertemu
mukapun seringkali diabaikan, tegur sapa sudah jarang dilakukan

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Merasa diri di atas roda kehidupan,
berada dalam keberuntungan hidup, memiliki kapasitas sebagai penentu baik
buruknya nasib seseorang, merasa kewenangan menjadi miliknya dan puncaknya merasa
kehebatan abadi menjadi miliknya. Bila situasi jiwa seperti ini menghinggapi
seseorang dan terus merasuk jiwa maka bisa membuat orang lupa diri.

Bila kesombongan mulai merayapi
diri. Merasa diri orang penting dan menganggap orang lain rendah. Merasa tidak
perlu lagi menghargai orang lain, acuh tak acuh. Ketika berpapasan, menjawab
sapaan pun tidak.

KISAH NYATA TETANGGA SENDIRI

Saya tidak bermaksud untuk
bersenang-senang diatas kejatuhan orang lain. Itu saya sangat hindari. Namun
dengan cerita ini kita bisa belajar bahwa kesombongan dan keangkuhan itu adalah
jalan menuju kejatuhan. Oleh sebab itu saya tidak mencantumkan nama dan alamat
alamat yang sebenarnya dalam cerita ini.

Tetangga kami dulu sebut saja Pak
Tedi, kehidupannya tidak banyak berbeda dengan kehidupan kami, serba
kekurangan. Kerja tidak menetap, serabutan. Hidup seperti itu selama
bertahun-tahun. Suatu saat berkat kerja kerasnya, dia mendapatkan kesempatan
mengelola sebuah proyek. Proyek yang ditanganinya membuahkan hasil. Dalam waktu
singkat hidupnya berubah drastis. Dia sudah bisa membeli rumah dan pindah dari
tempat kami. Mobilpun sudah dia miliki. Kami dan seluruh tetangga merasa ikut
bergembira dan bersyukur tetangga kami ada juga yang hidupnya berubah. Namun
sayang, semenjak keberuntungan hidup sedang berpihak kepadanya, sikapnya
berubah total.

Setelah kepindahannya ke Jakarta sesekali
dia mampir ke kampung kami. Mungkin ada urusan bisnis. Ketika berkunjung ke
rumah orang, dia hanya membunyikan kalokson mobil dan tidak mau turun. Tuan
rumah yang harus keluar dan menemuinya di kendaraan. Ia pun tidak pernah
menyempatkan bertegur sapa atau berbincang sebentar ataupun bersalaman, padahal
sudah lama tidak bertemu

 

BERADA DI BAWAH RODA KEHIDUPAN

Roda kehidupan kadang di atas kadang
di bawah. Hidup adakalanya senang adakalanya menderita. Tiu terjadi juga dengan
pak Tedy. Beberapa tahun kemudian, saya mendapatkan kabar perusahaan yang pak
Tedi miliki bangkrut. Seluruh assetnya di sita bank.

Suatu saat, ketika saya naik taksi
dari apartement menuju Tanah Abang, saya kaget, sopir yang saya tumpangi
seperti pak Tedi tetangga yang dulu kaya raya. Utuk memastikan saya tanya”
Maaf, kalo tak salah ini pak Tedi ya?”

Ia menjawab dengan gagap: ” Benar,
oh..ini pak Cipta ya?! Ini saya punya taksi beberapa unit cuma kebetulan
sopirnya tak masuk, daripada nganggur taksinya, saya gantiin dulu.” Suaranya
bergetar.

Setibanya di tempat tujuan, saya
kasihkan selembar uang 100 ribu rupiah. Ketika pak Tedi mau mencari
kembaliannya, saya bilang simpan saj Cuma sedikit kok. Itulah pertemuan
terakhir dengan pak Tedi, semenjak itu kami tak pernah berjumpa lagi.

Tidak Ada Yang Abadi di Dunia Ini

Semua orang sudah tahu dan sadar
bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Suatu saat kaya di lain
waktu bisa miskin. Sekarang sehat besoknya tiba-tiba sakit. Begitupun dengan
jabatan, tidak juga abadi. Namun seringkali jabatan yang disandangannya
menjadikan orang lupa diri. Semua merasa terpenuhi, dan merasa tidak
membutuhkan orang lain lagi. Padahal di atas langit ada langit. Jabatan yang
tinggi di luar sana ada yang lebih tinggi lagi jabatannya. Merasa kaya, padahal
di luar sana ada yang lebih kaya raya.

Jabatan yang membuat kita sombong,
sesungguhnya sedang membohongi diri kita sendiri. Tengoklah ke atas. Ada banyak
orang yang lebih berkelas. Sombong karena merasa kaya. Tengoklah ke atas, uang
yang kita miliki mungkin bagi mereka adalah hanya dianggap recehan saja.

Tetaplah Rendah Hati

Sisihkanlah dalam kesibukan kita
untuk bertegur sapa. Menanyakan kabar atau bagaimana lazimnya sebagai orang
yang menyandang makhluk sosial. Luangkan beberapa menit untuk menjawab pesan
orang, mungkin pesan itu sangat dibutuhkan jawabannya oleh mereka, walau
mungkin bagi kita tidak penting.

Sehebat apapun kedudukan kita,
kehidupan wah kita yang terpenting adalah mensyukurinya. Tetaplah rendah hati.
Jaga sikap kita. Suatu saat bilamana kita terpuruk maka kita bisa segera
bangkit lagi, dukungan orang dan sikap kita sangat membantu untuk berdiri
kembali. Rendah hati itu seumpama kita berjalan di jalan yang datar, bila
terjatuh mudah kita bangkit lagi.

Beda bila mana kita memposisikan
diri lebih tinggi dari yang lain, berlaku sombong dihadapan orang lain, ketika
terpuruk sulit untuk bangkit kembali, seperti jatuh dari tepian jurang.
Silaturahmi sudah terputus. Orang lain sudah terluka. Siapa yang akan menolong,
membantu memapah kita?

Sikap rendah hati tidak akan
menurunkan derajat kita. Tidak akan mengurangi wibawa kita. Rendah hati sama
seklai tidak membuat rasa hormat orang lain berkurang pada diri kita. Malahan
orang akan lebih menghargai dan mengormati. Sedangkan kesombongan justru akan
melukai hari banyak orang malahan menimbulkan rasa benci.

Orang yang pernah mengalami hidup
sengsara serba kekurangan maka dia sebenarnya sudah mendapatkan pelajaran hidup
yang sangat berharga. Keangkuhan tak akan pernah muncul pada dirinya karena dia
merasa bahwa apa yang kini dia milik belum tentu esok dia masih  bisa menikmatinya.

x

Hi!
I'm Marcella!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out