Sistem dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Maka, sikap nasionalisme perlu

Sistem Pendidikan Gagasan Ki Hajar Dewantara

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sejatinya merupakan
sebuah media untuk membangun masyarakat yang beradab, yaitu sebuah pemikiran
besar untuk menjadikan peserta didik sebagai agen pewaris budaya, memahami
karakteristik bangsa dan negaranya, serta mengedepankan pentingnya pendidikan
budi pekerti.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Sebagai bangsa yang besar, memiliki berbagai budaya daerah
yang berbeda, Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki keragaman. Melihat
kondisi sosio-kultural tersebut, peserta didik didorong untuk dapat
melestarikan budaya lokal sebagai identitas bangsa dan negaranya.

Ki Hajar Dewantara mengemukakan gagasannya bahwa budaya
nasional harus menyesuaikan dengan budaya internasional, artinya terdapat
sebuah akulturasi budaya yang saling bersinggungan. Namun, penetrasi budaya
luar ini bukan berarti diterima secara mentah-mentah, melainkan harus melewati
tahap filterisasi, yaitu upaya untuk menyaring budaya luar yang sesuai dengan
kepribadian dan karakter bangsanya sendiri yang kemudian dapat
diimplementasikan dalam kehidupan. Maka, sikap nasionalisme perlu ditanamkan
kepada peserta didik, sebagai fondasi yang melandasi interaksinya dengan budaya
luar. Dengan demikian, peserta didik mampu melebur dan menyesuaikan diri dengan
relevansi budaya global tanpa melupakan identitasnya sebagai bangsa Indonesia,
yaitu bangsa yang majemuk dan memiliki budaya lokal yang harus dilestarikan
sebagai kekayaan budaya nasional.

Konsep pendidikan yang dikembangkan bangsa barat tidak
sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Pendidikan barat hanya berorientasi
pada aspek intelektualisme, individualisme dan materialisme. Maka, pentingnya
pendidikan budi pekerti memiliki arti penting dalam membentuk peserta didik
yang unggul dari berbagai aspek, yaitu daya cipta (intelektual), rasa (afeksi)
dan karsa. Dengan demikian, pendidikan akan menumbuhkan rasa peduli terhadap
sesama, humanis dan berbudaya.

Dasar Pendidikan Taman Siswa yang dicetuskan Ki Hajar
Dewantara

Dasar pendidikan ini disebut Panca Dharma dasar-dasar 1947,
yaitu sebagai berikut:

1.      
Asas Kemerdekaan, yaitu hidup dengan bebas
merdeka, memiliki segenap hak yang seharusnya diterima tanpa melupakan
kewajiban

2.      
Azas kodrat alam, yaitu membiarkan
tumbuh-kembang anak sebagaimana mestinya secara wajar

3.      
Azas Kebudayaan, yaitu memajukan kebudayaan
bangsa yang sejalan dengan perkembangan zaman untuk kepentingan hidup rakyat
secara keseluruhan

4.      
Azas Kebangsaan, yaitu berisi amanat untuk
bersatu serta memandang bangsa lain sebagai kawan

5.      
Azas Kemanusiaan, yaitu wujud kemanusiaan ini diimplementasikan
dengan rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk Tuhan

 

 

 

 

 

 

Filosofi Pendidikan Paulo Freire

Paulo Freire mengemukakan pendapatnya mengenai realitas
kondisi pendidikan yang tidak sesuai dengan cita-cita dari adanya pendidikan
itu sendiri. Dia berpendapat bahwa esensi pendidikan digunakan sebagai alat
untuk menghegemonikan pemikiran masyarakat agar tunduk kepada penguasa.
Pendidikan yang seharusnya menjadi media untuk mencapai kesejahteraan rakyat
melalui pemikrian-pemikiran kritis yang mengarah pada perbaikan kondisi
sosial-ekonomi masyarakat, justru digunakan oleh pemerintah sebagai alat
penindasan.

Metode pembelajaran yang digunakan saat itu diibaratkan
sebuah “bank” oleh Freire. Peserta didik dianalogikan sebagai sebuah bank atau
tempat kosong yang pengetahuannya diisi oleh seseorang yang disebut pendidik.
Peserta didik diposisikan sebagai objek yang tidak tahu apa-apa, sehingga harus
diisi dengan segala pengetahuan yang sudah disusun dalam suatu sistem
pendidikan tanpa memahaminya secara komprehensif. Peserta didik hanya dicekoki
teori-teori normatif yang dihapalkan tanpa memaknai dan mengimplementasikannya
dalam kehidupan.

Freire menawarkan sebuah metode pembelajaran yang lebih
dialogis. Dia menyebutnya sebagai gaya belajar hadap masalah. Secara
konseptual, peserta didik dijadikan sebuah subjek yang dihadapkan pada sebuah
permasalahan. Pendidik berperan menjadi fasilitator yang mengarahkan dialog
peserta didik. Diharapkan komunikasi yang terbangun mengarah pada suatu
kesimpulan masalah yang kemudian dapat dicarikan dan diselesaikan menggunakan
solusi-solusi yang tepat.

Relevansi Pendidikan Kritis dengan Kurikulum Pendidikan
Sekolah Masa Kini

Perkembangan pendidikan formal di Indonesia mengalami
perubahan yang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Sistem pendidikan nasional
diatur melalui kurikulum atau standarisasi yang ditentukan oleh negara dan
diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. 
Kurikulum nasional diperlukan sebagai acuan dalam pelaksanaan proses
pendidikan, sehingga diharapkan mampu menghasilkan output yang sesuai dengan
kebutuhan negara. Output daripada pendidikan adalah manusia yang berkualitas,
baik secara intelektual, psikomotorik atau spiritual. Perkembangan kurikulum
pendidikan nasional yang diterapkan, yaitu sebagai berikut :

1.      
Kurikulum 1947

Pada awal pembentukan sistem pendidikan nasional, kurikulum
yang ada dinamakan Rentjana Pelajaran
1947 yang dicanangkan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial. Dalam
kondisi bangsa yang baru saja meraih kemerdekaan, pendidikan diarahkan untuk membentuk
karakter manusia yang merdeka dan berdaulat, serta memiliki kepercayaan diri
untuk hidup sejajar dengan negara lain di dunia.

2.      
Kurikulum 1952

Pada tahun 1952, kurikulum pendidikan mengalami
penyempurnaan. Kurikulum itu dinamakan Rentjana
Pelajaran Terurai 1952. Penyempurnaan yang paling terlihat yaitu berkenaan
dengan adanya konten materi pelajaran yang dihubungkan dengan realitas
sehari-hari

3.      
Kurikulum 1964

Rentjana Pendidikan 1964 yang diterapkan sebagai kurikulum
pendidikan mengalami perubahan yang signifikan, yakni dengan adanya
tujuan-tujuan spesifik pada jenjang Sekolah Dasar, sehingga pembelajaran
dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan daya cipta,
rasa, karsa, karya, dan moral (Hamalik, 2004). Mata pelajaran diklasifikasikan
dalam lima kelompok bidang studi, yaitu  moral, intelektual, emosional, keterampilan,
dan jasmani. Pendidikan ditingkat dasar menekankan pada penguasaan pengetahuan dan  kegiatan fungsional praktis.

4.      
Kurikulum 1968

Perubahan yang paling terlihat pada kurikulum 1968 yaitu
perubahan konsep Pancawardhana menjadi jiwa pancasila. Penerapan kurikulum ini
ditekankan dalam rangka pembentukan manusia pancasilais yang kuat secara fisik
serta memiliki kecerdasan intelektual, moral dan spiritual yang berlandaskan
pancasila dan UUD 1945.

5.      
Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan adanya tujuan yang jelas melalaui
petunjuk umum, prosedur materi dan alat pembelajaran serta evaluasi pelaksanaan
pendidikan, sehingga pengajar diberikan beban untuk membuat rincian yang
dicapai pada kegiatan pembelajaran. Kesibukan ini menjadi permasalahan karena
pengajar disibukkan untuk membuat rincian kegiatan belajar tanpa dibarengi
dengan penyampaian materi yang substansial.

6.      
Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 menyempurnakan capaian-capaian yang diusung
kurikulum sebelumnya. Kurikulum yang diterapkan berbasis student active learning, yaitu sebuah metode belajar yang
menjadikan siswa sebagai subjek yang mampu mengamati dan mendiskusikan suatu
objek materi pembelajaran. Kurikulum ini berorientasi pada proses yang dapat memberikan
hasil berupa peningkatan keaktifan siswa.

7.      
Kurikulum 1994

Perubahan yang paling tampak pada kurikulum 1994 yaitu berubahnya
waktu belajar per-semester menjadi per-caturwulan, atau menggunakan satuan enam
bulan menjadi tiga bulan. Adanya segmentasi waktu evaluasi secara berkala
memberikan keleluasaan kepada siswa untuk lebih memahami konsep dan
keterampilan secara berkelanjutan. Implementasi kurikulum ini mengacu pada UU No.2
Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

8.      
Kurikulum 2004 (KBK)

Kurikulum 2004 dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi,
yakni sebuah konsep pendidikan berbasis standar yang digunakan untuk melakukan
tugas-tugas tertentu (kompetensi) yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa
pendidikan ditujukan untuk menyiapkan individu yang mampu melaksanakan tugas
yang diberikan.

Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:

(1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri
peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2)
keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya (Puskur,
2002a).

9.      
 Kurikulum
2006 (KTSP

Pada awal tahun 2006, kurikulum sebelumnya berganti menjadi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yaitu sebuah sistem pendidikan nasional
yang memberikan ruang kepada satuan pendidikan (sekolah) untuk dapat menentukan
silabus dan sistem penilaian yang mandiri, meskipun memerlukan koordinasi dan
supervisi dari pemerintah daerah setempat. Acuan dasar yang digunakan tetap
menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Departemen Pendidikan Nasional,
yaitu berupa karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar
kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) . Hal ini disebabkan karangka dasar
(KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar
(SKKD)

KTSP bertujuan untuk mengakomodasikan kondisi dan potensi satuan
pendidikan di daerah agar terdapat penyesuaian kebutuhan bidang-bidang
pekerjaan yang membutuhkan

 

x

Hi!
I'm Marcella!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out